Welcome in Rasyid Blog

Membaca Adalah cara dimana dunia ada pada genggaman anda..
Jadi Teruslah membaca..
Semoga dapat bermanfaat bagi anda..

A-CHIED ANGKOTASAN

Sabtu, 29 Desember 2012

METODE DALAM ANALISIS STRUKTUR 1

Analisis struktur merupakan hal yang utama perlu diketahui dari seorang engineering, karena dasar dari ilmu teknik sipil adalah analisis struktur, baik analisis struktur 1, 2 , 3, 4 dan 5. masing - masing harus dikuasai dengan baik jika ingin menjadi engineering sejati, :-D.

Beberapa metode dalam penentuan gaya-dalam analisis struktur 1,
Untuk memenuhi syarat-syarat stabilitas, kekuatan, dan kekakuan yang ditetapkan pengaruh-pengaruh gaya-dalam pada suatu struktur dan terhadap komponen-komponennya serta sambungannya yang diakibatkan oleh beban-beban yang bekerja harus ditentukan melalui analisis struktur dan dengan salah satu metode berikut ini :
1. Analisis elastis
2. Analisis plastis
3. Analisis non-konvensional lainnya yang telah baku dan telah diterima secara umum.


a. Komponen struktur tak-bergoyang adalah komponen struktur yang perpindahan transversal antara kedua ujungnya dikekang secara efektif. Hal ini berlaku pada rangka segitiga dan rangka batang atau pada rangka dengan kekakuan bidangnya diberikan oleh bresing diagonal, atau oleh dinding geser, atau oleh pelat lantai atau pelat atap yang menyatu dengan dinding atau sistem bresing paralel terhadap bidang tekuk komponen struktur;


b. Komponen struktur bergoyang adalah komponen struktur yang perpindahan transversal antara kedua ujungnya tidak dikekang. Komponen struktur tersebut biasa dijumpai pada struktur yang mengandalkan mekanisme lentur untuk mengendalikan goyangan.




c. Bentuk-bentuk struktur pada analisis struktur

Pendistribusian pengaruh gaya-dalam kepada komponen-komponen struktur dan sambungan-sambungan pada suatu struktur ditetapkan dengan menganggap salah satu atau kombinasi bentuk-bentuk struktur berikut ini :

1. Kaku
2. Semi Kaku
3. Elastis

Suatu struktur dianalisis sebagai suatu kesatuan kecuali untuk:
  1. Struktur-struktur beraturan dapat dianalisis sebagai rangkaian suatu rangka dua dimensi, dan analisis struktur dilakukan masing - masing untuk dua arah yang saling tegak lurus, kecuali bila terjadi redistribusi beban yang besar di antara rangka-rangkanya;
  2. Untuk beban vertikal pada suatu struktur gedung bertingkat tinggi yang dilengkapi dengan bresing atau dinding geser untuk memikul semua gaya-gaya lateral, setiap lantai bersama-sama dengan kolom-kolom tepat di atas dan di bawahnya dapat dianalisis secara terpisah; ujung-ujung jauh kolom dapat dianggap terjepit.
Bila balok-balok lantai pada suatu struktur gedung bertingkat tinggi dianalisis secara terpisah maka momen lentur pada tumpuan dapat ditetapkan dengan menganggap bahwa lantai tersebut terjepit pada suatu tumpuan di ujung jauh bentang berikutnya, asal saja lantai tersebut bersifat menerus pada tumpuan yang dianggap terjepit.

Rabu, 19 Desember 2012

Perbedaan Profil Baja I, WF, dan H

Profil WF (Wide Flange) adalah salah satu profil baja struktural yang paling populer digunakan untuk konstruksi baja. Namun, profil ini ternyata punya banyak nama. Ada yang menyebutnya dengan profil H, HWF, H-BEAM, IWF, dan I. Bahkan ada juga beberapa tempat yang menggunakan istilah WH, SH, dan MH. Sebenarnya mana yang paling tepat?

image

Kalo mau cari yang paling tepat sih menurut saya harus mengacu ke standar yang berlaku. Nah, kalo acuan kita adalah SNI, maka kita akan memperoleh ada beberapa standar untuk produksi material profil berbentuk I:

  1. SNI 07-0329-2005, Baja I Beam Canai Panas
    image
  2. SNI 07-2610-1992, Baja Profil H Hasil Pengelasan Dengan Filter
    image
  3. SNI 07-7178-2006, Baja Profil WF Beam Proses Canai Panas
    image
(gambar di atas saya capture langsung dari masing-masing SNI. Silahkan download di sini)
Jadi, kira-kira perbedaannya adalah seperti tabel di bawah:

Profil I Profil WF Profil H
Proses pembuatan: hot-rolled
Ada 2 lengkungan (r1, r2)
Proses pembuatan: hot-rolled
Ada 1 lengkungan (r1)
Proses pembuatan: pelat + las.

Jadi, seperti itulah kira-kira penamaan yang paling benar sesuai standar yang ada.
Tapi… kenyataannya yang beredar di lapangan sedikit menyimpang. :)
Profil I yang sebenarnya hampir jarang kelihatan di lapangan. Profil H yang sebenarnya juga jarang yang pesan kecuali untuk ukuran yang sangat besar atau ukuran khusus.
Malah yang paling laris adalah profil WF. Tapi entah darimana sejarahnya, profil WF pada akhirnya sering juga disebut profil I dan profil H. Kalo profil H masih bisa dimaklumi, karena referensi asal SNI adalah standar Jepang (JIS). JIS sendiri menggunakan istilah H untuk  profil WF. Ukurannya pun sama.

image image

Yang kiri adalah profil H salah satu produsen baja di Jepang (kalo ga salah), sementara yang kanan adalah Profil Wide Flange (WF) dari Gunung Garuda (juga merefer ke JIS).
Jadi, antara WF dan H bisa dibilang ngga ada masalah penamaan. Malah ada yang kurang kerjaan dengan menggabungkan keduanya menjadi HWF. Sementara Profil IWF sendiri secara standar itu rancu, tapi di lapangan, profil IWF merujuk ke profil WF.
Terakhir, ada satu grup penamaan lagi yang saya lagi malas nyari asal usulnya, SH, MH, dan WH. Semua profil ini mengacu ke WF, yang membedakan adalah perbandingan antara lebar dan tingginya.
  • Profil SH (short-H), adalah profil WF yang lebarnya kira-kira sama dengan setengah kali tingginya. Misalnya 100×50, 200×100, 250×125, dll.
  • Profil WH (wide-H), adalah profil WF yang lebarnya kira-kira sama dengan satu kali tingginya. Misalnya 150×150, 175×175, 300×300, dll.
  • Profil MH (middle-H) adalah profil WF yang berada di antara SH dan WH. Misalnya 150×100, 250×150, dll. Dibandingkan dua di atas, profil MH ini lebih jarang ditemui di lapangan.
Nah, sebagai kesimpulan, saya coba rangkum nama-nama profil I/H/WF yang beredar di lapangan/pasar:
  1. Profil I (I-Beam).
    Seharusnya menunjuk ke : Profil I
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF
  2. Profil WF.
    Seharusnya menunjuk ke : Profil WF
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF
  3. Profil H.
    Seharusnya menunjuk ke : Profil H (las). boleh juga ke Profil WF.
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF.
  4. Profil IWF.
    Seharusnya menunjuk ke : tidak ada (rancu).
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF
  5. Profil H-BEAM.
    Seharusnya menunjuk ke : tidak ada (tidak dikenal di SNI)
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF. Ada juga sebagian yang ke Profil H (las).
  6. Profil HWF.
    Seharusnya menunjuk ke : tidak ada (tidak dikenal di SNI)
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF.
  7. Profil SH, MH, dan WH.
    Seharusnya menunjuk ke : tidak ada (tidak dikenal di SNI)
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : Profil WF.
  8. Nama lain seperti UB, UC, W, dll.
    Seharusnya menunjuk ke : standar lain (non-SNI)
    Di lapangan/pasar menunjuk ke : standar lain (non-SNI)


catatan:
Beredarnya nama-nama profil baja di lapangan tentu melibatkan banyak “pemeran”. Berikut ini analisa saya dari mana asal perbedaan tersebut.
Level 1:
  • Pihak industri. Mereka yang lebih paham penamaan profil karena pihak industri yang berhubungan langsung dengan SNI. Jadi seharusnya tidak ada penyimpangan penamaan dari pihak industri.
  • Pihak perencana. Perencana yang jarang membaca code/standar tentu tidak akan paham perbedaan nama-nama profil. Bisa jadi yang dia maksud adalah profil WF, tapi dia menuliskan di gambar rencananya dengan nama lain, misalnya profil I atau profil IWF atau profil H-Beam. Jadi, kalo mau ditelusuri, dari sini lah awal mula kerancuan nama tersebut. :)
Level 2:
  • Pihak penyalur/penjual. Mereka menerima barang (profil baja) dari produsen, lengkap dengan namanya yang sudah sesuai SNI. Penjual tentu tidak mengalami masalah.
  • Pihak pelaksana/kontraktor. Mereka menerima gambar rencana dari konsultan perencana. Mereka melihat nama-nama profil baja yang disebutkan/dicantumkan oleh perencana.
  • Kontraktor bertemu dengan Penjual. Kontraktor memesan material sesuai gambar rencana (misalnya Profil I), tapi ternyata pesanan yang dimaksud tidak ada di daftar si Penjual. Misalnya yang ada WF (sesuai standard dari pabrik/industri).
  • Kontraktor “ngotot” dengan dalih mereka yang lebih paham masaah konstruksi, dan memberikan penjelasan kepada si Penjual bahwa Profil I itu sama dengan profil WF. Akhirnya terjuallah profil WF itu dengan nama yang sudah diganti menjadi I :D (Padahal secara standar, kedua profil tersebut seharusnya berbeda).

Kamis, 06 Desember 2012

MENULIS DALAM REDUPNYA LILIN


Menulis di pagi yang masih temaram. Lampu padam. Namun semangat mengukir kata tak sedikitpun padam meski dalam kegelapan. Dengan setitik cahaya lilin yang remang, kutuntaskan segala risau hati dan kuurai dengan berbait kata-kata.
Menulis dalam Redupnya Lilin
Waktu demi waktu kujalani, kadang dengan ritme yang sama dari hari
ke hari. Yang berbeda hanyalah frekuensi kegalauan yang terus bertambah. Bukan bingung dengan apa yang harus kulakukan. Tapi justru aku sangat paham dengan setiap langkah yang harus dijalani. Kemudian sebuah asumsi tak kasat mata mengguncang pikiranku, “Mengapa waktu tak pernah cukup, seolah masa seperti atlet marathon mengejar segalanya, namun tak kunjung sampai?”
Hufh…
Menarik nafas panjang. Ku sadari kekeliruan selama ini. Selalu saja kesulitan memposisikan diri sesuai proporsi. Haruskah ku selingkuhi waktu untuk kesekian kalinya…
Ingin ini, ingin itu. Banyak sekali, seperti permintaan Nobita pada Doraemon. Hanyasaja sangat mustahil kugapai semua asa dengan kantong ajaib. Di tengah gempuran informasi berbentuk citra kata-kata, aku memang kerapkali fhobia pada slogan semanis coklat. Kata-kata  menukik dalam media promosi/ edukasi di dunia maya. Satu sisi memang menambah satu senti semangat diri, namun di sisi lain tak dapat kupungkiri jika kata-kata membius itu tengah menipu nurani untuk percaya pada jalan pintas. Jalan pintas untuk menjadi bahagia, sukses, dan jenjang semacam popularitas. Kemudian, membuat terhempas pada fatamorgana dunia.
BYAR!
Lampu pun menyala setelah hampir satu jam PLN memadamkan listrik. Aku dan adik-adikku berebut meniup lilin di setiap sudut ruangan. Aneh memang…
Satu jam aku menulis ditemani cahaya lilin yang redup, seredup sisi lain dalam diri.

Senin, 26 November 2012

SEPERTI APAKAH, TEKNIK SIPIL ITU.?

Apa Itu Teknik Sipil?
Teknik Sipil adalah suatu disiplin ilmu keteknikan/rekayasa yang berkaitan dengan perencanaan, konstruksi, dan perawatan struktur tertentu, serta merenovasi tidak hanya suatu bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia.

Selain cakupan bidang di atas, ahli Teknik Sipil juga dapat berkecimpung di bidang lain seperti yang berkaitan dengan informatika, memungkinkan untuk memodelisasi sebuah bentuk dengan bantuan program CAD, pemodelan kerusakan akibat gempa, banjir, dan bencana lainnya. Peran ahli Teknik Sipil juga masih berlaku walaupun fase pembangunan sebuah gedung telah selesai, seperti terletak pada pemeliharaan fasilitas gedung tersebut.

Apa Saja Yang Dipelajari di Teknik Sipil?
Pada prinsipnya ilmu yang banyak dipelajari pada Teknik Sipil berkaitan dengan ilmu fisika terapan, terutama ilmu mekanika. Selain mempelajari ilmu-ilmu teknis untuk keperluan merancang, membangun dan memelihara struktur bangunan, mahasiswa juga akan mempelajari berbagai aspek manajemen konstruksi bangunan seperti mengelola pelaksanaan konstruksi dengan baik (mengatur jadwal kerja, mengatur pekerja, bahan dan peralatan), sesuai dengan prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengunaan berbagai sumber daya, serta tetap menjaga dan memenuhi ketentuan lingkungan. Terdapat beberapa bidang kelompok keahlian/keilmuan yang dapat dipilih oleh mahasiswa Teknik Sipil diantaranya adalah: Struktural, Geoteknik, Manajemen Konstruksi, Hidro dan Lingkungan, Transportasi, dan Informatika Teknik Sipil.

Prospek Lulusan Teknik Sipil
Jenis-jenis pekerjaan yang merupakan peluang pasar kerja lulusan Teknik Sipil antara lain adalah:
  1. Bidang Pembangunan Infrastruktur. Seorang lulusan Teknik Sipil dapat berprofesi sebagai konsultan atau sebagai kontraktor yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan.
  2. Bidang Pemerintahan. Peluang lainnya adalah bekerja sebagai pegawai dalam bidang pengaturan dan kebijakan di instansi pemerintahan, seperti di Departemen dan Dinas PU, PMU-Bina Marga, Departemen ESDM, Dinas Tata Kota & Pertamanan di Tiap Propinsi, Bapenas, Bapeda dll.
  3. Bidang Industri Energi, Pertambangan dan Pengolahan. Lulusan Teknik Sipil dapat bekerja sebagai staf/manager pemasaran, Manager dan CEO (Chief Executive Officer), Quality Auditor dan Quality Assurance Manager, untuk perusahaan properti dan pabrik bahan konstruksi di berbagai perusahaan di lingkungan industri migas, pertambangan, dan pengolahan seperti Pertamina, Schlumberger, PLN, Freeport, INCO, Pupuk Kaltim dll.
  4. Bidang Pendidikan. Seorang lulusan Teknik Sipil dapat menjadi pengajar/peneliti di perguruan tinggi/lembaga pendidikan atau di pusat-pusat penelitian.
  5. Bidang lainnya. Lulusan Teknik Sipil juga mempunyai kemampuan yang cukup bersaing untuk bekerja di berbagai bidang non-keteknikan, seperti perbankan dan asuransi, notaris, atau berkarier di bidang-bidang lainnya.

KEMBALIKAN MARTABAT ENGINEER


Dalam mengisi pembangunan bangsa ini, tugas seorang engineer sesungguhnya adalah sangat mulia.Mereka motor membangun gedung dan rumah-rumah tempat orang banyak berteduh, membangun jembatan-jembatan untuk memperpendek jarak dari daerah ke daerah, serta membangun jalan-jalan agar mudah ditempuh. Dalam keyakinan kita, membuang kulit pisang di jalan saja sudah banyak pahalanya.

Apalagi membagun badan jalannya!Tugas mulia itu, kini telah bergeser. Seharusnya engineer sebagai “penentu” hasil akhir pembangun,kini berubah menjadi yang “ditentukan”. Yang seharusnya menjadi “motor”, kini telah berubahmenjadi roda atau ban. Yang seharusnya menjadi “kepala kucing”, kini telah berubah menjadi “ekor singa”. Jadi! Tidak heran, banyak gedung-gedung dan rumah-rumah yang retak, miring, bahkan ada yang rubuh sebelum digunakan. Banyak jembatan-jembatan yang gagal, turun dan retak, padahal baru tiga hari selesai dibangun. Sangat banyak jalan-jalan yang berlubang, aspal yang hancur dan penuh dengan kubangan air, padahal jalan tersebut belum diserah-terimakan.

Kembalikanlah martabat engineer! Kembalilah melaksanakan tugas yang mulia. Pantaskah, seorang engineer menaikan atau meng-mark-up harga satuan pembangunan dalam Rencana Anggran Biaya (RAB)? Sehingga suatu proyek yang nilai satu miliar bisa menjadi satu setengah atau dua miliar. Haramkah, seorang engineer meng-mark-up volume-volume material dalam pembangunan jalan? Sehingga bisa menciptakan korupsi dan kolusi berjamaah. Ingat! Orang yang menjual minuman keras, orang yang membelinya, orang yang menyediakan gelas, orang yang mnuangkan, dosanya sama dengan orang yang meminumnya. Sama-sama, Neraka.

Sebagai penutup saya kembali mengutip pernyataan yang menarik dari Said Dadu (Ketua Persatuan Insinyur Indonesia dalam majalah Techno Konstruksi Edisi 28: 13). “Bedanya engineer dengan bukan engineer adalah, kalau engineer selalu berpikir tentang nilai tambah, kalau non engineer berpikir value creation (rekayasa nilai). Sebagai contoh, harga kopi adalah biaya produksi untuk menjadikan kopi ditambah marjin keuntungan. Jika biaya produksi kopi Rp. 1.000 tetapi bisa dijual Rp. 10.000 kenapa tidak, itu bukan engineer. Jika harga kopi Rp. 1.000 diterima dipasar karena kemahalan, maka engineer akan berfikir mencari teknologi yang bisa menekan harga produksi kopi lebih rendah lagi agar bisa dijual di bawah Rp. 1.000.”

Semoga para engineer bisa kembali kepada fitrahnya dalam melaksanakan tugas yang mulia untuk mengisi pembangunan bangsa ini. Berperan sebagai motor pembangunan, bukan sebagai roda-roda gila yang mengilas jasad-jasad masyarakat miskin. Berperan sebagai penetukan hasil akhir pembangunan, bukan sebagai wadah dan lahan berkolusi, berkorupsi buat para koruptor- koruptor atau buat para penghianat bangsa ini. Semoga

ENGGINER COPY PASTE



Diceritakan tentang seorang pria kerdil yang ikut menyaksikan sebuah opera di sebuah panggung  terbuka. Panggung tersebut dipenuhi banyak orang, sampai-sampai seorang penonton yang kerdil tak dapat menyaksikan pertunjukan. Anehnya, ia selalu ikut tertawa, tepuk tangan, dan lain sebagainya  seperti dilakukan oleh penonton yang dapat menyaksikan pertunjukkan secara langsung. Setelah petunjukkan selesai, usut punyai usut, ternyata orang kerdil itu sama sekali tidak mengerti cerita yang dipentaskan tadi. Ia hanya ikut-ikutan perilaku penonton lain. Langkah tersebut ia tempuh lantaran khawatir dicemooh tidak mengerti jalannya petunjukkan.

Kisah orang kerdil menonton opera (Andrew Ho, 2008) ini tepat untuk melukiskan seseorang engineer yang tidak memahami, tidak mengerti bidang engineering yang diembannya, tetapi berlagak seolah-olah sangat paham akan disiplin ilmunya dengan cara meniru atau disebut dengan ”duplikasi”. Tipe manusia kerdil yang sekedar memanfaatkan gelar kesarjanaan untuk mengelabuhi orang banyak dalam melaksanakan banyak proyek seperti ini, dapat kita sebut dengan ”Engineer Copy Paste”.

Tidak sedikit sarjana copy paste tipe manusia kerdil menonton opera ini berpraktek, lebih dari itu bahkan manusia tipe ini dengan kehebatan meniru tanpa perhitunganlah yang banyak menguasahi dunia bisnis diberbagai bidang. Misalnya, tidak sedikt dunia Jasa Kontruksi di daerah kita telah dikuasai engineer-engineer tipe ini. Dalam hal merancang bangunan konstruksi bangunan mereka meng-copi paste desain struktur bangunan lain, menciplak hasil karya orang lain tanpa rasa tanggungjawab akan bahaya kegagalan struktur,  atau malahan sebaliknya terjadi over dosis biaya struktur bangunan karena sekedar meniru tanpa perhitungan.

Dibidang pengawasan atau supervisi tipe engineer copy paste akan berlagak sebagai pengawas yang serba tahu, bertindak seperti ”Cowboy” kehilangan pistol. Mereka tidak mengawasi jalannya pembangunan proyek dengan baik, malahan tidak segan-segan mengancam minta bangunan yang telah dibangun untuk dibongkar kembali karena ulahnya jua. Tanpa disadari engineer copy paste inilah akan merusak nama dan keprofesionalan rekan engeneer-engineer lainya, yang mau bekerja keras kompeten pada bidangnya.

Coba lihat disekitar kita, coba ingat-ingat. Bila kita dengar gelar ”Insinyur” bangunan pada tahun 80-an di Pekanbaru,  terbayanglah seseorang yang ahli, pakar, serba bisa dan dapat dipastikan profesinya adalah dalam bidang hal rancang bangun. Pada saat itu jarang-jarang bahkan sulit menemui orang yang bertitel insinyur, karena gelar ini memang susah diperoleh (ada yang sampai memakan waktu belasan tahun) dan kebanyakan mereka yang bertitel insinyur pun memang benar-benar tahan uji.

Saat ini, banyak yang bergelar sarjana teknik  profesinya tidak lagi berkecimpung dibidang rancang bangun. Mereka berprofesi juru ketik, pedagang (buka kedai), dan menekuni bidang-bidang bisnis lainya. Yang hebatnya lagi, banyak  sarjana teknik berprofesi sebagai juru jiplak-menciplak dalam urusan rancang bangun.

Sering dijumpai rancangan-rancangan struktur bangunan gedung bertingkat yang prototip seperti pelat lantai, balok lantai (floor beam), kolom dan pondasi. Padahal struktur balok dan kolom hampir tidak pernah ada yang prototip satu gedung dengan gedung lainnya, karena besar dimensi pelat, balok dan kolom disamping tergantung beban juga tergantung bentang serta mutu material struktur bangunannya. Apalagi struktur pondasi, sangatlah mengherankan apabila ada struktur pondasi yang benar-benar prototip antara satu bangunan dengan bangunan lainnya. Dimensi struktur pondasi bukan hanya ditentukan oleh beban, bentang, dan mutu struktur saja, tetapi lebih dari itu dimensi pondasi juga sangat ditentukan oleh tanah dasar pendukung yang sangat heterogen sekali.

Apabila rancang-bangun ditangani oleh engineer copy paste, ini alamat kehancuran akan segera datang. Bukan hanya pemborosan dan kehancuran bangunan saja yang terjadi, tetapi lebih dari itu, bisa menelan korban jiwa manusia. Sebaiknya, engineer copy paste ini segera menghentikan mal prakteknya, karena bukan hanya terjadi kerugian pada orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Engineer copy paste biasanya berasal dari mahasiswa copy paste pada saat mereka menuntut ilmu di perguruan tinggi. Tak bisa dipungkiri bahwa setiap mahasiswa yang menuntut ilmu cenderung ingin cepat selesai, dengan cara yang mudah untuk mengdapatkan hasil yang maksimal. Tak bisa dipungkiri juga bahwa kebanyakan mahasiswa pun mempergunakan ilmu pandai-pandai, membuat tugas dengan  meminjam file (soft copy) kawananya. Cukup dengan copy paste dan sedikit diedit,  hanya mengganti obyeknya saja agar tugas dapat diselesaikan. Bukankah begitu, hai ”mahasiswa”?

Pengalaman penulis selama bertahun-tahun membimbing tugas akhir mahasiswa teknik sipil menemukan bahwa dalam menyusun tugas akhir, tak jarang ilmu copy paste ini digunakan oleh mahasiswa yang  malas berfikir, enggan bekerja keras. Copy paste digunakan sebagai jurus utama yang paling ampuh dalam melakukan penelitiannya dan membohongi publik. Sehingga selalu mencari judul-judul yang sudah ada contohnya dan lengkap dengan soft copy-nya, agar dapat mereka edit hanya obyek penelitian saja. Sering terjadi bila lokasi penelitian dalam tugas akhirnya adalah di Kota Pekanbaru,  masih berlokasikan di kota lain karena lupa diedit. Sehingga menghasilkan sebuah tugas akhir copy paste yang serba cepat dan isinya yang tak dipahami oleh si-mahasiswa peneliti sendiri.
Hebat, bukan?

Melalui artikel ini kita berharap bisa menghilangkan kebiasaan buruk copy paste yang ada disekitar kita.  Karena mal praktek ini tidak hanya merusak kopentensi juga melanggar Hak Intelektual orang lain (HAKI). Semoga kita semua bisa membuang kebiasaan jelek copy paste itu, tidak seperti Pria kerdil yang sedang menonton opera, semoga. ***

PENCURIAN PENIPUAN PADA BANGUNAN SIPIL







Isi artikel ini adalah kutipan kembali artikel opini yang pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu dengan judul “Akal-Akalan Kontraktor Nakal” untuk disajikan kembali ke hadapan pembaca yang budiman. Artikel yang saya salin ulang ini, saya beri nama baru yakni “Pencurian dan Penipuan pada Bangunan Sipil”, karena isi artikel ini kayaknya masih relevan dengan kondisi sekarang. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua! Selamat mengikuti.

Julukan modern abad kini; kontraktor makan besi, beton, krikil, ataupun aspal, sudah tak asing lagi didengar di telinga kita. Izinkalah saya kembali meminjam kata-kata dari Ir. Andy Kirana, M.S.A, yaitu ungkapan umum yang menyakitkan dan sering dilontarkan adalah ”Kontraktor itu pencuri’ atau ”Konsultan itu penipu”. Mengapa demikian? Kembali ke konteks citra buruk bisnis konstruksi tersebut, maka ungkapan tersebut tidaklah berlebihan, apabila masih ada segelintir kontraktor yang terus berusaha untuk mencuri material bangunan.

Kata orang, ”secerdik-cerdiknya polisi”, namun lebih cerdik lagi si pencuri, yang konon katanya lebih cerdik dan lebih nakal dari pada si kancil pada cerita anak-anak. Mencuri material bangunan tidak mudah, karena di samping takut ketahuan, mereka harus mempunyai dan menguasai berbagai teknik akal-akalan yang tidak terpuji, belum lagi mereka harus berhadapan dengan hukum akibat kegagalan bangunan. Dari nara sumber yang sangat menyakinkan yaitu versi ”si-Usil” dari kedai kopi, mengupas tuntas tentang bagaimana akal-akalan kontraktor nakal dan cara mencuri material bangunan.

Dengan teknik perlahan tapi pasti, hampir semua bidang proyek pekerjaan sipil bisa disusupi dengan mudahnya. Proyek konstruksi jalan misalnya; sudah berapa ribu-ribu kubik tanah timbun dimakan, hanya dengan mengeser patok tetap (BM). Mudah sekali, cukup dengan menekan sedikit patot BM sudah dapat meng-uap-kan ribuan kubik tanah timbun, celakanya semua ini bisa tertata rapi, didukung oleh Shop Drawing dan Asbuilt Drawing, yang diiringi oleh berita acara pemeriksaan yang seolah-oleh memang sesuai benar dengan prosedur.

Aspal (Hot-mix) yang berwarna hitam legam mungkin rasanya manis juga, karena konstruksi aspal yang kelihatan sulit dipermainkan pun bisa diakal-akalin untuk dimakan.  Untuk mencapai kepadatan tertentu dalam penghamparan aspal ini, persyaratannya harus dilakukan pada temperatur sekian sampai temperatur sekiannya (temperatur tertentu). Dengan memainkan temperatur di bawah dari yang disyaratkan, tentu akan diperoleh volume aspal jadinya yang lebih besar, yang konon kata si-Usil bisa mencuri 10 sampai 30 persen aspal.  Hal ini terjadi bisa juga dengan mengakal-akalin terjadinya perbedaan temperatur antara lokasi pembuatan yang disebut dengan AMP, dengan lokasi penghamparan di mana konstruksi jalan dikerjakan.

Terutama di Pekanbaru pemakaian besi banci, kayu banci, batu bata banci, dan material bangunan lainnya yang serba banci sudah menjadi hal yang lumrah. Sudah berapa banyak material besi yang dimakan, karena menggunakan besi banci. Jangan dianggap sepele akibat pengurangan beberapa milimeter dari diameter besi yang digunakan, karena yang dikurangan adalah diameter bagian luar (out side), maka pengurangan beberapa milimeter itu akan sama dengan pengurangan sekian puluh persen besi dari material besi itu. Bayangkanlah, bagaimana caranya memakan besi beton tajam dan keras ini yang jumlahnya sampai ratusan ton? Luar biasa!

Rupanya beton bisa juga dimakan orang. Pencurian volume beton pada pembuatan jalan setapak misalnya, sisi tepi kiri kanan dibuat sesuai dengan gambar, malahan kadang-kadang sengaja dilebihkan, tetapi pada bagian dalam atau sisi tengahnya dibuat setipis mungkin. Tidak berbeda dengan pekerjaan pengecoran dinding saluran, pada bagian tanggul dibuat sesusai bestek, tetapi pada bagian dinding yang sulit diukur dibuat setipis mungkin. Yang lebih menyedihkan, adalah pekerjaan pembesian tanggul parit pada daerah pelosok, atau daerah yang sepi penghuninya. Besi tanggul bisa ditarik-tarik seiring dengan pekerjaan pengecoran beton tanggul, sehingga rangkaian besi yang panjangnya sepuluh meter bisa dipergunakan untuk pengecoran tanggul yang berpuluh-puluh meter panjangnya.

Begitu juga pada pekerjaan saluran irigasi, pembuatan saluran-saluran primer sampai dengan tersier juga tidak jarang terjadi pencurian spesifikasi, sehingga sudah berapa banyak jaringan irigasi yang tak dapat berfungsi dengan baik. Pada saluran yang gampang dipantau oleh tim pemeriksa dibuat sedemikian bagusnya, tetapi bagaimana dengan area-area yang sulit dijangkau pemeriksa? Mereka kerjakan dengan sesuka hati, kalau perlu hanya dengan satu skop excavator saja, yang penting airnya dapat mengalir dengan tidak memperhatikan debit air yang akan dialiri.

Sebenarnya semua ini tidak perlu terjadi, apabila si pengawas konstruksi bekerja sesuai dengan apa semestinya menurut tugas yang diberikan. Pengawas yang baik sadar bahwa, mereka telah dibayar untuk mengawasi bangunan-bangunan yang dibangun dari uang rakyat. Bagaimana dengan Pimpro yang arif? Dia tidak akan meminta komisi yang konon besarnya bisa mencapai 10%, karena dia sadar komisi tersebut pasti berasal dari hasil jarahan di proyek. Kontraktor tidak mungkin bisa berbuat banyak, apabila pihak-pihak yang terlibat konsekuen dengan tugasnya masing-masing.

Meskipun cerita masalah curi-mencuri di atas hanyalah merupakan cerita ”Si-Usil” di kedai kopi, tetapi pada realitanya tidaklah jauh-jauh dari cerita kedai kopi tersebut,  suatu realita yang sulit dibuktikan atau bisa jadi fakta yang enggan dibuktikan. Kalaulah hal ini benar, timbul pertanyaan besar, Apa yang dikerjakan Panitia Lelang? kemanakah konsultan pengawas? Kemanakah tim teknis instansi yang bersangkutan? Apa saja kerja seorang Pimpro? Sampai dimanakah tanggung jawab mereka? Bukankah mereka sudah dibayar untuk tugas tersebut? Dan sampai kapankah hal ini akan terus berlangsung?

Di Tulis oleh : Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U